
Synthetic Aperture Radar untuk Monitoring Deformasi Lahan
Bandung
- Humas BRIN. SAR (Synthetic Aperture Radar) adalah
bentuk radar yang digunakan
untuk membuat gambar dua dimensi atau rekonstruksi objek tiga dimensi, seperti lanskap. Lanskap merupakan suatu bentang
alam dengan karakteristik tertentu yang dapat dinikmati oleh seluruh indera
manusia.
SAR
menggunakan gerakan antena radar di atas wilayah target untuk memberikan
resolusi spasial yang lebih baik daripada pemindai berkas konvensional. SAR biasanya dipasang pada platform yang
bergerak, seperti pesawat terbang, UAV drone atau pesawat ruang angkasa, dan memiliki asal-usul
dalam bentuk radar udara tampak samping atau side looking airborne radar
(SLAR) yang canggih.
Rendi Handika, periset
Pusat Riset Geoinformatika dan tim mengikuti kegiatan pelatihan dari CSSTEAP
(Centre for Space Science and Technology Education in Asia and the Pacific),
kerja sama
NASA dan India dengan topik pelatihan terkait Remote Sensing and Geographic
Information System.
Hampir
selama 2 minggu pelatihan difokuskan pada Interferometry Synthetic Aperture
Radar (INSAR) di mana pesertanya selain dari Indonesia, ada juga dari
berbagai negara lain yaitu Vietnam, Thailand, Malaysia, India, Mongolia,
Uzbekistan, Laos, Nepal, Myanmar, Tajkistan, dan Filipina dengan total peserta
20 orang.
Pada
pelatihan ini diberikan materi terkait dasar-dasar teknologi SAR, prinsip kerja
dan aplikasinya dalam penginderaan jauh, metode dan teknik analisis data SAR
untuk mendeteksi dan mengukur deformasi tanah.
“Ada
juga workshop praktis mengenai cara mengunduh, memproses dan menganalisis data
SAR menggunakan perangkat lunak/webbased, analisis kasus nyata deformasi
menggunakan data SAR dari berbagai sumber. Kemudian dibagi kelompok untuk
melakukan proyek mini, presentasi hasil kerja, diskusi panel dengan para ahli
di bidang SAR dan diakhiri evaluasi pelatihan,” ujar Rendi pada Sharing
Session BRIGHTS Pusat Riset Geoinformatika, Kamis (4/7) secara daring.
Rendi
menuturkan dirinya dan periset dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi serta
beberapa persiet negara lain mengambil studi kasus penurunan tanah wilayah
perkotaan di Semarang, Jawa Tengah dengan data-data dari Alaska Satellite
Facility (ASF) Sentinel 1.
“Dari
hasil proyek ini kami diajarkan menggunakan tools package Mintpy (The
Miami INsar Time-series software in PYthon) bagaimana merunning sebuah teknik
INSAR yang ada di Alaska. Mintpy merupakan sebuah program yang open source dan
gratis, mendukung InSAR modern, dapat terintegrasi dengan toolbox (Jupiter
Notebook, Google Colabs), kemampuan analisis kuat,” jelas Rendi.
Dirinya
juga menyampaikan bahwa dari data Sentinel mulai tahun 2020-2024 yaitu 217 data
yang dirunning dengan metode Small Baseline Subset (SBAS) InSAR Time
Series Analysis with MintPy maka menghasilkan hasil yang memang mirip
dengan aplikasi SAR di area studi yang sama. Keuntungan Mintpy ini
adalah pada area of interest bisa disetting sendiri dan pilih titik
transeknya sehingga menghasilkan sebuah peta dan lebih fleksibel.
“Aplikasi
SAR ini dapat digunakan juga pada pemantauan bencana, pemantauan lahan gambut,
pemantauan infrastruktur (bandara, jembatan, bendungan, jalan tol), dan
pertambangan,” pungkasnya. (cw, ed.kg)